Home »
Bp Antonius Tanan
» Chef Hugo (Hendra Utomo) akan memimpin di acara UC Innovative Kitchen Lab bulan Agustus nanti.
Chef Hugo (Hendra Utomo) akan memimpin di acara UC Innovative Kitchen Lab bulan Agustus nanti. Inilah info tentang Chef Hugo dari tabloid Nova
---------------------------------------------------------
Hendra Utomo "The Singing Chef" Jumat, 29 April 2011
Foto: Henry Ismono
Di usia 35 tahun, ia sudah dikenal sebagai chef andal di kawasan Surabaya. Bahkan, ia sering road show ke berbagai kota. Ciri khasnya: suka menyanyi!
Mengaku suka masak sejak kecil, Chef Hendra Utomo (35), tamat SMA memilih sekolah perhotelan di Nusa Dua, Bali, Jurusan Kitchen. “Ternyata, saya benar-benar menikmati. Seminggu teori, seminggu praktik selama tiga tahun,” kenang Hendra yang memilih belajar menu Eropa.
Hendra merasa beruntung karena mendapatkan sekolah terbaik. Apalagi, ia termasuk mahasiswa terbaik dan lulus cum laude . Kesempatan bagus pun ia raih ketika mendapat kesempatan job training di Hotel Ritz Carlton Singapura. “Hotel itu merupakan salah satu hotel terbaik di Asia Tenggara. Hanya saya satu-satunya trainee bagian kitchen yang diterima.” Selesai training , kesempatan terbuka bagi Hendra untuk masuk ke Hotel Ritz Carlton Bali, tahun 2000. Ia kebagian tugas chef malam. “Tugasnya berat sekali. Saya pegang room dining , restoran, sampai menyiapkan breakfast untuk 1000 orang.” Selanjutnya, Hendra memilih mengundurkan diri.
Keahliaannya menyanyi disela-sela memasak, membuat dirinya dijuluki Singing Chef. Tak Hanya itu, Chef Hendra pun kerap berpakaian unik ketika tampil dimuka publik (Foto: Dok Pri)
Honor Tinggi
Hendra kembali ke Surabaya dan sekitar empat tahun kerja di Bogasari. “Saya enjoy bekerja di posisi sebagai periset dan pengembangan. Saya juga mengajar. Makanya, saya terbiasa menghadapi ibu-ibu.”
Hanya saja, Hendra sempat mengalami kendala. Usianya yang kala itu masih 20-an, membuatnya dianggap anak kecil. Bahkan, ia pernah mendapat honor kecil ketika diminta suatu event organizer (EO) untuk mengajar di suatu tempat. “Mungkin mereka mengira saya anak kecil yang bisa dibohongi,” katanya seraya tergelak.
Kala itu, ia banyak mendapat pelajaran dan pengalaman berharga. Hampir tiap bulan ada road show , bahkan sampai ke Indonesia Timur. “Saya pernah ke Timika, Larantuka. dan Timor Leste.”
Kesibukan Hendra makin padat ketika ia sukses membuat buku resep yang diterbitkan kelompok Gramedia. Ia membuat antara lain aneka kreasi kue kering dan jajan pasar. Ia sudah menerbitkan 5 buku. Selain itu, ia juga mengeluarkan VCD/DVD masak.
Suatu ketika, Hendra mendengar kabar, sebuah stasiun teve mengadakan acara audisi untuk acara Koki Lima , semacam plesetan dari kata kaki lima. “Acaranya memang terdiri dari lima koki. Wah, pesertanya banyak banget, sampai ratusan. Acara berlangsung sampai malam hari. Betapa senangnya ketika juri, salah satunya Sisca Soewitomo, memilih saya. Saya lolos acara Koki Lima ,” kata Hendra yang memanggil Sisca dengan sapaan akrab, Mami. “Sejak itu, saya sering bertukar kabar dengan Mami. Kemampuan Mami memang luar biasa.”
Sayangnya, imbuh Hendra, acara Koki Lima tak berlangsung lama. “Rating -nya enggak bagus.” Hendra lalu pulang ke Surabaya. Ia kembali memegang acara road show masak ke berbagai kota, baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
Selama itu pula, Hendra terus berusaha mencari peluang mengisi acara di stasiun teve. Pernah dapat kontrak 25 episode untuk teve lokal. Bersama Chef Tatang, ia sempat syuting di Puncak untuk beberapa episode sekaligus. Sayang, acaranya tak sempat ditayangkan. “Ketika sudah sampai 4 episode, ahli gizi yang terlibat di acara ini, pergi ke Amerika. Syuting ditunda, sampai akhirnya tak terdengar kabarnya lagi.”
Ada sebuah capaian yang membanggakan Hendra, ketika ia bersama Chef Tatang mendapat undangan dari Menteri Pariwisata Malaysia di sebuah acara Malaysia Asean Heritage Trail pada 2009. Ia tampil bersama para chef top dari beberapa negara ASEAN. Yang membanggakan, ia tampil bareng Chef Wan dari Malaysia. “Dia seorang international chef . Namanya sudah terkenal di mana-mana.”
Ia juga bergirang hati ketika mendapat honor berstandar internasional. Itulah jumlah honor terbesar yang pernah ia terima. “Saya amat senang, selama empat hari demo masak menu-menu Indonesia di hotel bintang lima. Peserta demo sangat antusias saat saya masak bebek betutu, krengsengan rawon, dan karedok,” kata Hendra yang diwawancarai belasan media lokal, baik cetak maupun teve.
Chef Hendra ikut membesarkan De Kasteel hingga bisa seperti sekarang ini. Perlahan, ia pun mulai meninggalkannya (Foto: Henry Ismono)
Kafe Kastil
Selama ini, Hendra populer dengan julukan “The Singing Chef”. Sebab, ia selalu menyanyi saat demo masak. “Sebelumnya, orang kenal saya sebagai chef yang tampil beda. Misalnya, dengan busana yang macam-macam. Nah, sejak tahun 2009, saya memilih membuka acara dengan menyanyi. Ternyata peserta demo suka. Sejak itu, berjalan terus sampai sekarang,” katanya.
Lantas dari mana idenya? “Saya, kan, suka menyanyi. Pernah punya cita-cita jadi penyanyi, tapi wajah saya kurang komersial. Nah, sekarang saya bisa memanfaatkan bakat saya,” katanya yang biasanya menyanyi di tengah dan akhir acara.
Pria yang juga mengajar di Universitas Ciputra ini, sempat vakum sebagai MC entertainment . Kala itu, ia mengelola kafe yang diberi nama De Kasteel. Ia membuat konsep kafe abad pertengahan dengan menu western . Konsep kafe berbentuk kastil ini dipresentasikan ke pemodal. “Ternyata, konsep saya diterima. Selanjutnya, saya konsentrasi mengelola De Kasteel. Mulai penataan interior sampai menu, saya yang menyiapkan.”
Kafe di kawasan Citraland, Surabaya ini ternyata menarik minat banyak pengunjung. Kini, kafe sudah berjalan lancar. Pelan-pelan Hendra sudah bisa meninggalkannya. Bersama MOVA (mobil NOVA), Hendra kembali mendemokan aneka kreasi, tetap dengan menyanyi. “Bersama MOVA, saya sudah keliling ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata pria yang masih melajang ini.
Henry Ismonohttp://www.facebook.com/groups/255210701192596/permalink/544671015579895/
0 komentar:
Posting Komentar